Jumat, 18 Maret 2016

BUNTET pesantren



SEDIKIT TENTANG BUNTET PESANTEREN CIREBON 

Buntet Pesantren yang kita kenal sekarang ini, merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia, berdiri sejak abad 18 M dibangun oleh Mufti Keraton Cirebon, Mbah Muqoyim yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Dengan penolakan itu, Mbah Muqoyim lebih memilih tinggal di luar tembok istana dan menjadi guru kemudian mendirikan pesantren yang kini dikenal dengan Buntet Pesantren.

Tempat yang pertama kali dijadikan sebagai pondok pesantren letaknya di Desa Bulak kurang lebih 1/2 km dari perkampungan Pesantren yang sekarang. Sebagai buktinya di Desa Bulak tersebut terdapat peninggalan Mbah Muqoyyim berupa situs makan santri yang sampai sekarang masih utuh.

Pondok Buntet Pesantren bersifat tradisional dan modern, dikatakan modern karena mengadopsi sistem sekolah modern seperti Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi. Adapun tradisional, dikarenakan pondok Buntet ini terus mengkaji kitab-kitrab salafussholeh yang banyak mengupas seputar Al Quran, Hadits, Tafsir, Balaghoh, Ilmu gramatika bahasa Arab, dan karya-karya Akhlak maupun tasawuf dan fiqh dari para ulama terdahulu.
Sekolah formal di Buntet Pesantren
  1. Akademi Perawat Buntet Pesantren
  2. SMK Mekanika Buntet Pesantren
  3. Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
  4. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Putera (MANU Putra)
  5. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama Puteri (MANU Putri)
  6. Madrasah Tsanawiyah  Nahdlatul Ulama Putra I (MTsNU Putra I)
  7. Madrasah Tsanawiyah  Nahdlatul Ulama Putra II (MTsNU Putra II)
  8. Madrasah Ibtidaiyah 
  9. Madrasah Diniyah
  10. Taman Kanak-Kanak

Letak Pesantren
Di tempat yang sekarang ini berada, pesantren ini posisinya ada di antara dua Desa: + 80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang. Kepadatannya cukup besar.

Wilayah Buntet Pesantren ini mirip sebuah desa yang cukup luas, tetapi bukanlah nama Desa Buntet. Sebab Desa Buntet yang memiliki kepala desa berlokasi sebelah Utara. Adapun posisi pesantren ini terletak di antara dua desa, desa Mertapada dan desa Munjul. Sebelah Utara Pesantren ini dibatasi oleh Buntet Desa; sebelah Timur Desa Mertapada (LPI); Sebelah Selatannya adalah Desa Kiliyem dan sebelah Barat adalah Desa Munjul.

Masyarakat Penghuni Pesantren
Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri (mengaji).

Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet.

Mereka memiliki hubungan yang cukup erat bahkan saling menguntungkan (mutualism). Awalnya mereka menjadi khodim (asisten) atau teman-teman Kyai kemudian karena merasa betah akhirnya menikah dan menetap di Buntet Pesantren hingga sekarang. Penduduk Buntet Pesantren yang bukan dari turunan Kyai ini dulunya dikenal dengan istilah masyarakat Magersari. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Sebab namanya juga perkampungan santri, aktivitas sehari-hari diramaikan oleh hingar-bingar pelajar yang menuntut ilmu; siang para santri disibukkan dengan belajar di sekolah formal, dan malam harinya belajar kitab atau diskusi tentang agama di masing-masing kyai sesuai kapasitas ilmunya.

Sesepuh Buntet Pesantren
Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini.

Lebih jelasnya periodisasi kepemimpinan Kyai Sepuh ini berturut-turut hingga sekarang dipimpin oleh Kyai yang dikenal Khos yaitu KH. Abdullah Abbas (kini Almarhum), dan digantikan oleh KH. Nahduddin Abbas. Nama-nama Kyai yang dituakan dalam mengurus Pondok BuntetPesantren secara turun-termurun adalah sebagai berikut:

1. KH. Muta’ad (Periode pertama)
2. KH. Abdul Jamil
3. KH. Abbas
4. KH. Mustahdi Abbas
5. KH. Mustamid Abbas
6. KH. Abdullah Abbas
7. KH. Nahduddin Abbas (hingga sekarang)

Seiring dengan perkembangan zaman, Pondok Buntet Pesantren dengan segala potensi yang dimiliki berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dengan memadukan antara Sistem Salafi dan Sistem Kholafi. Sistem salafi adalah metode belajar dengan berpedoman kepada literatur para ilmuan Muslim masa lalu, sedangkan sistem khalaf mengacu kepada pendidikan modern dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkannya.

Untuk lebih mengoptimalkan ikhtiar tersebut, maka dibentuklah sebuah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Salah satu tugasnya adalah mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal.

Sebab salah satu sistem yang dibangun di pesantren ini adalah bagi santri yang mondok di Buntet Pesantren diharuskan menyelesaikan pendidikan formal sebagai amanat UU Pendidikan Nasional, sesuai dengan usia pendidikannya. Mereka harus mengikuti jenjang pendidikan formal seperti SD, SLTP, SLTA hingga Universitas jika mampu. Selain itu mereka pun diwajibkan mengikuti pendidikan non formal (dirosah diniyyah) yang digelar di masing-masing asrama, atau mengikuti pendidikan khsusus yang diadakan oleh kyai-kyai sesuai spesialisasi ilmunya.

Para Almarhumin Kyai
Berturut-turut nama-nama di bawah ini adalah para kyai yang telah berkiprah lama mengurus Pondok Buntet Pesantren. Salah satu jasa beliau adalah mempertahankan sekaligus memajukan sistem pendidikan pesantren bagi generasi muda Indonesia. Para lulusan Buntet sangat kenal sekali dengan mereka. Karena itu sepantasnya untuk mengenang jasa-jasa beliau maka di bawah ini adalah nama-nama armarhumin (pendahulu) yang bisa dipelajari bagaimana riwayat kehidupannya.
KH. Abdul DJamil
KH. Abbas
KH. Ilyas
KH. Anas
KH. Yusuf
KH. Khamim
KH. Ahmad Zahid
KH. Khowi
KH. Mustahdi Abbas
KH. Mustamid Abbas
KH. Zen
KH. Murtadho
KH. Busyrol Karim
KH. Akyas Abdul Jamil
KH. Arsyad
KH. Izuddin Zahid
KH. Nasiruddin Zahid
KH. Anwaruddin Zahid
KH. Hisyam Mansyur
KH. Chowas Nuruddin
KH. Fuad Hasyim
KH. Fuad Zen
KH. Nu’man Zen
KH. Fahim Khowi
KH. Fakhruddin

Kamis, 08 Oktober 2015

desa kaligangsa


desa kaligangsa nampak sunyi mencekam jelang malam. apalagi sejak adanya kematian misterius yang menghantui warganya membuat warga makin ketakutan. Kematian yang selalu sama membuat warga desa pun menduga bahwa ini adalah ulahnya. Hal ini membuat tiap malam desa kaligangsa selalu sunyi senyap,tak ada yang berani meronda setelah 2 orang warga desa yang terkenal berani dan cukup tangguh jaga malam, esoknya meninggal dengan cara yang sama. Meninggal hanya tinggal tengkorak yang bau anyir darah.

tapi rupa nya hal itu tak berlaku pada malam jumat kliwon kali ini. Balai desa yang biasa nya sunyi mencekam dan gelap justru ramai oleh beberapa warga desa dan juga terang yang disinari oleh beberapa pelita. Paijo,lurah desa kaligangsa nampak disana dan juga aryo sang menantu pak lurah. Mereka semua mengelilingi seseorang,seorang laki-laki berusia lanjut berambut putih yang memakai baju hitam. Beberapa gelang dari akar pepohonan nampak di tangan dan kaki nya.

"jadi kau mengaku salah pak lurah" kesunyian balai desa di pecahkan oleh suara laki-laki tersebut. Suara nya yang berwibawa dan tatapan mata nya yang tajam membuat paijo,lurah desa kaligangsa tak berkutik. "benar ki madrim,aku mengaku salah."dengan suara lemah paijo membuat pengakuan. Pengakuan pak lurah membuat beberapa warga desa bisik-bisik dan balai desa itu pun ramai oleh suara gaduh. Namun semuanya kembali tenang ketika ki madrim mengangkat tangannya."sukurlah kau mau mengaku salah pak lurah. Hal ini membuatku mantap dan tak ada ganjalan untuk menghadapi perempuan itu. Perlu kau ketahui pak lurah dan juga semua yang ada disini."kata ki madrim sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang."sebenarnya seluruh bencana yang menimpa desa kalian ini karena ulah kalian sendiri,terutama karena ulahmu pak lurah."ki madrim mengakhiri pembicaraannya sambil menatap tajam pak lurah. Pak lurah hanya menunduk saja karena memang bersalah. Akh,kalo saja ia tak menuruti nafsu tentu desa yang ia pimpin tak akan mengalami bencana. Tapi harga dirinya berontak. tidaaak,ini semua adalah salahmu larasati,teriaknya dalam hati.

larasati adalah kembang desa kaligangsa. Hal ini membuat banyak pemuda tergila-gila pada nya. salah satunya adalah paijo. Ia memang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada larasati. Sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan karena larasati lebih memilih trisno yang merupakan sahabatnya sendiri. Trisno yang tahu bahwa sahabatnya jatuh cinta pada larasati berusaha mengalah. Tapi sayang,larasati yang sudah jatuh hati pada nya tak mau dengan paijo. Lebih baik aku jadi perawan seumur hidup daripada kawin dengannya,begitu tegas larasati pada trisno ketika suatu saat trisno mengutarakan maksudnya agar larasati kawin dengan paijo. Trisno yang pada dasarnya cinta pada larasati pun akhirnya luluh lantas mereka berduapun menikah. Hal ini membuat paijo sakit hati dan bertekad merebut larasati pada suatu saat.

perkawinan trisno dan larasati lancar saja selama puluhan tahun karena mereka saling mencintai. Sayang hal itu berubah ketika suatu wabah penyakit menyerang desa kaligangsa. Wabah ini membuat warga desa menderita penyakit yang mengerikan. Jika kena maka dalam beberapa hari akan mati setelah demam beberapa hari. Hal ini dimanfaatkan oleh paijo dengan baik. "Ini adalah penyakit santetnya trisno. Ayo ganyang dia biar penyakit hilang dari desa kita."hasut paijo pada penduduk desa. Penduduk desa yang mendengar hal itu pun marah. Tanpa dikomando mereka mengeroyok trisno. Trisno yang memang tak tahu apa-apa akhirnya mati dengan mengenaskan karena di keroyok oleh penduduk. Melihat saingannya mati maka paijo yang masih cinta pada larasati pun segera merayu nya. Sayang bukan cinta sang janda yang didapat tapi malah sebuah kutukan. Aku tahu ini perbuatanmu paijo. Aku pasti akan membalas dendam padamu dan penduduk desa. Kalian akan mati mengerikan,begitu larasati mengutuk dan setelah itu diapun menghilang.

aneh bin ajaib,begitu trisno mati maka desa kaligangsa pun berangsur-angsur pulih kembali. Penyakit menular hilang dan desa pun kembali tentram. Paijo sendiri terasa tak percaya karena ia memang hanya menghasut saja. Para penduduk desa pun senang dan mereka akhirnya mengangkat paijo menjadi lurah menggantikan lurah lama yang juga ikut mati terkena penyakit sayang ketenangan itu hanya beberapa tahun karena desa kaligangsa kembali diteror. Kali ini bukan penyakit menular lagi tapi penduduk desa yang mati mengerikan. Mereka mati menjadi tulang belulang berlumuran darah setelah rumah mereka kejatuhan bola api."ini pasti kutukan larasati. Aku melihat ia dipinggir desa."teriak seorang penduduk. Sayang baru saja ia bicara sebuah bola api datang menghantamnya dari kegelapan malam membuat nasibnya tak beda jauh dengan korban lainnya.

"pak lurah,apa pak lurah mendengarku?"teriak ki madrim membuyarkan lamunan paijo. Paijo pun tergagap dan mengangguk. Ki madrim lantas berpaling pada pemuda disamping pak lurah."kau berhasil menjalankan tugasmu anak muda?"tanya ki madrim membuat aryo,sang menantu pak lurah mukanya menjadi agak merah. Ia pun menggangguk dan menyodorkan sebuah bungkusan kain."aku berhasil ki. Ini benda yang aki minta. Semoga tidak salah."jawabnya sambil harap-harap cemas. ki madrim membuka bungkusan kain kafan itu lantas memeriksanya dengan seksama. Tak lama kemudian ia berkata."ini rambut perempuan itu kan nak aryo?" "benar ki."jawab aryo lantas melanjutkan."aku mengambilnya sesuai perintah aki. Berkat obat yang aki berikan membuat larasati tertidur sehingga aku dengan leluasa mengambil 7 rambut tengah kepala miliknya ki."jawabnya panjang lebar.

Ya,aryo memang disuruh oleh ki madrim untuk mengambil rambut larasati beberapa hari sebelumnya. "Kau harus mampu mengambil 7 rambut tengahnya larasati kalo mau kutukan di desa kaligangsa hilang. Karena letak kelemahan ilmu bethoro kolo milik nya ada ditengah rambutnya. Dan aku tahu kau punya hubungan khusus dengannya." papar ki madrim membuat muka aryo memerah.aryo memang punya hubungan khusus dengan larasati. Ketika ia mendengar bahwa temannya mati terkena teluh larasati maka ia bermaksud untuk menuntut balas. Pergilah ia ke pinggir desa dan terkejutlah ia ketika tahu bahwa wanita yang menyebabkan bencana didesa nya masih sangat cantik. Larasati sendiri yang memang lama menjanda tertarik juga pada aryo yang memang wajahnya menarik. Akhirnya mereka berdua pun menjalin cinta. Ketika ia dapat tugas dari ki madrim ia agak takut,Beruntung larasati yang memang punya hubungan khusus dengan aryo membuat tugasnya jadi mudah ditambah ramuan khusus dari ki madrim.

"ya sudah semua nya.mari kita ke tempat perempuan itu agar musibah yang melanda desa kalian bisa segera hilang. Mumpung ini malam jumat kliwon,malam kelemahan ilmu yang dimilikinya."teriak ki madrim keras membuat balai desa itu bergetar. Warga desa yang memang sudah marah dan dendam pada larasati segera saja menyambut ajakan itu. Teriakan bersahut-sahutan segera menggema di balai desa. Ada yang menyiapkan golok,parang dan juga kayu. Berduyun-duyun mereka segera menuju ke pinggir desa dipimpin oleh pak lurah dan ki madrim.

sang dewi malam nampak malu-malu menampakkan diri dibalik awan.sinarnya yang terang tak mampu membuat tentram hati seorang wanita yang sedang berdiri dipinggir sebuah rumah. larasati tahu ia membuat kesalahan yang mana berakibat fatal. ilmu yang dimiliki nya hilang karena sumber ilmunya sudah dicabut. tapi ia masih agak tenang karena ia masih memiliki sesuatu. perlahan-lahan dielusnya perutnya lantas berkata dalam hati.'"kau tahu nak,mereka hendak beramai-ramai membunuh ibumu seperti ketika mereka membunuh ayahmu. Padahal Ibu hanya membunuh mereka yang memang pantas dibunuh. Kini mereka datang untuk menghakimi seolah-olah mereka yang paling benar,padahal mereka sama busuknya dengan ibumu."perutnya bergetar membuat larasati tersenyum. Ketika ia menengadahkan kepalanya dilihatnya puluhan penduduk desa sudah mengepungnya dengan membawa obor membuat suasana jadi terang benderang.

Larasati tersenyum manis lantas berkata."aku tahu kalian tak menginginkan hal lain selain nyawaku. Tapi sebelum aku mati aku ingin melihat manusia pengecut yang menyebabkan semuanya ini."teriak nya keras pada penduduk desa membuat gentar hati beberapa penduduk. Satu dua penduduk yang nyalinya ciut segera saja kabur lalu meringkuk dibawah selimut sambil ketakutan. Paijo memerah muka nya lantas segera maju ke depan. "kau harus membayar kejahatanmu terhadap warga desa dengan nyawamu larasati."teriaknya keras. Larasati tersenyum sinis lantas menjawab."begitu,bagaimana dengan kejahatanmu memfitnah suamiku hingga ia mati karena hasutanmu." "aku tidak menghasut. Buktinya begitu trisno mati maka wabah penyakit sampar langsung hilang."tangkis paijo membuat larasati murka. Beruntung ki madrim segera menengahi.

"sudahlah larasati,aku tahu suamimu mati karena konflik dengan pak lurah. Tapi tak seharusnya kau menurunkan tangan kejam membunuh penduduk secara membabi buta."kata ki madrim berwibawa. Larasati terdiam sesaat. Melihat larasati terdiam ki madrim segera melanjutkan."kau tahu aku hanya melakukan pekerjaanku larasati. Aku tak punya urusan pribadi denganmu. Kuharap kau maklum." "aku mengerti kakek tua. Tenang saja,arwahku tak akan menuntut balas kepadamu."jawabnya membuat beberapa penduduk desa ketakutan,bahkan beberapa diantara nya langsung kabur dengan terkencing-kencing. Larasati lantas mengedarkan pandangannya lalu berkata pada paijo."aku tak melihat menantumu paijo. Rupanya ia pengecut yang tak berani menghadapi orang yang biasa diajak nya bermain cinta." "aryo bukan pengecut larasati. Ia sudah berhasil menjebakmu hingga kau terlena dan kau kalah."teriak pak lurah puas."begitukah,aku memang terlena paijo tapi ia juga sama suka denganku. Kau tahu,mulai saat ini ia tak akan mendapatkan kepuasan dari wanita manapun karena hanya aku yang mampu membuatnya puas,haha...."habis berkata larasati tertawa puas.

Setelah itu ia mengedarkan pandangannya pada penduduk desa."kalian ingin nyawaku,majulah jika kalian berani."teriaknya keras pada penduduk desa yang mengepungnya. Para penduduk desa tak ada berani maju,bahkan parman yang kedua kakaknya jadi korban ketika di dorong maju oleh temannya malah dengkulnya gemetaran tak mau maju. Larasati tertawa lantas berkata pada ki madrim."kau lihat ki,semua warga desa adalah penakut bahkan termasuk juga orang yang mengundangmu itu."teriaknya keras sambil menunjuk pada pak lurah.jantung paijo bergetar keras tapi ia pun tak mau maju juga. Akhirnya ki madrim maju lantas berkata."kurasa sudah waktunya tiba hukumanmu larasati. Majulah mendekat supaya kematianmu cepat dan tak menyakitkan." larasati menurut lantas maju ke hadapan ki madrim. Ia segera menundukkan kepala nya pasrah menerima hukuman."lakukanlah tugasmu aki sebelum aku berubah pikiran terhadapmu."kata larasati. Tangan kanannya berubah menghitam. dengan perlahan-lahan diusapnya perutnya. Balaskanlah dendam ibumu ini nak,pada warga desa,orang yang menyebabkan ini semua dan juga pada orang yang membunuh ibumu.bisiknya dalam hati. Perlahan-lahan sinar hitam ditangannya pudar pindah ke dalam perutnya.

Hal ini luput dari perhatian ki madrim karena ia sendiri sedang memejamkan mata merapal mantra. Setelah selesai membaca mantra segera dihunusnya golok yang dibawa nya lantas tanpa ampun kepala larasati dipenggal. Kepalanya segera ditangkap ki madrim sementara dari leher yang putus nampak darah tumpah berhamburan yang sebagian memercik kepada ki madrim. Ki madrim mengernyitkan dahi ketika melihat tubuh larasati diam tak kelojotan yang nampak pada orang yang sedang sekarat. Apa yang sedang kau rencanakan larasati,desis ki madrim cemas dalam hati tapi di mulut ia tersenyum lantas berkata pada paijo."kuburkanlah ia sebagaimana mestinya agar arwahnya tak gentayangan pak lurah. Kurasa tugasku sudah selesai sampai disini." kata lantas segera menyerahkan kepala larasati pada paijo.

desa kaligangsa pun kembali tenang ketika larasati akhirnya mati. Paijo sendiri akhirnya mengundurkan diri sebagai lurah setelah ia di depan warga mengaku bahwa ia dulu yang menghasut warga untuk membunuh trisno. Aryo sendiri menghilang sejak kejadian itu dan warga pun akhirnya bisa beraktifitas kembali seperti biasa. Larasati sendiri akhirnya di kuburkan di kuburan krapyak di desa kaligangsa.

kuburan krapyak malam itu tampak mencekam. Apalagi malam itu adalah malam jumat kliwon dan juga ada seorang yang ditakuti yang dikuburkan disana. Sayang malam itu tak ada warga desa yang melihat bahwa kuburan orang yang mereka takuti nampak aneh. Kabut hitam berlahan-lahan turun disekitar makam larasati tak lama kemudian makamnya pun bergetar. Sepasang tangan putih nampak keluar dari makamnya. "tunggulah pembalasanku paijo."desisnya sambil menatap langit membuat sang dewi malam bersembunyi ketakutan dibalik awan.

Senin, 05 Oktober 2015

sejarah

perbedaan peradaban dan prasejarah

perbedaan peradaban dan prasejarah manusia itu mengalami evolusi sehingga melahirnya beberapa peradaban. Kita dapat memulai membahasnya dari peradaban atau zaman sebelum manusia mengenal tulisan sampai manuisa mengenal tulisan Zaman sebelum manusia mengenal tulisan atau zaman prasejarah atau zaman nirleka (nir: tidak ada; leka:tullisan) adalah zaman dimana belum digunakannya tulisan sebagai bahasa oleh orang-orang primitive. Zaman prasejarah dapat dikatakan diawali sejak terbentuknya alam semesta, tapi umumnya zaman prasejarah dikaitkan dengan...

Kamis, 16 Oktober 2014

RENUNGAN PENYESALAN

Renungan Penyesalan

Renungan Penyesalan
“Penyesalan selalu datang terlambat”, kata-kata ini seakan sudah menjadi hukum yang disepakati bersama. Jarang sekali pendapat “sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna” bisa diejawantahkan. Hal ini bisa terjadi karena kita belum bisa menyeimbangkan tiga perangkat penting yang dianugerahkan Allah kepada kita : akal, perasaan dan kecerdasan spiritual. Tiga komponen ini adalah satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.
Sulit sekali memang ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan atau pilihan, kita “bertanya” dengan apik kepada ketiga komponen yang kita miliki tersebut. Terkadang, perasaan lebih dominan hingga akal terkalahkan. Jadilah keputusan yang dibuat jauh dari cara pandang secara umum. Atau sebaliknya, akal lebih menguasai hingga kita jadi seorang makhluk yang tak punya rasa empati. Lebih parah lagi ketika kita sama sekali tidak melirik pada kecerdasan spiritual yang kita punyai, dan kitapun tidak terlalu cerdas untuk yang satu ini.
Maafkan saya sahabat. Penyesalan menjadi penting untuk dibahas, karena kecerobohon demi kecorobohan yang saya lakukan akhir-akhir ini. Spiritual yang tak terasah telah membuat saya melaju menjadi seorang hamba yang sombong, mengabaikan sunatullaah, kehilangan rasa empati dan sering mengeluh. Pertolongan Allah serasa sulit digapai, Syair lagu Bimbo “Aku jauh.. Engkau jauh… Hati adalah cermin.. tempat pahala dan dosa bertarung.. ” seringkali terngiang tapi tak satupun perubahan yang saya lakukan. Saya merasa “stag”, tak bisa bergerak, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan menangis pun tak bisa, tak ada yang bisa menyentuh perasaan terdalam padahal saya adalah seorang wanita.
“Tangis adalah senjata seorang wanita” tidak berlaku sama sekali. Hati ini terasa begitu gersang. Saya merasa ngeri dengan diri sendiri, berada di “negeri lain” dan tak menghiraukan dunia yang sudah ada. Saya tidak peduli dengan pandangan teman-teman, saya tidak peduli dengan lingkungan, tidak bisa membedakan hak dan kewajiban, mencampuradukkan benar dengan salah, dan tak ingin berpikir yang membuat lelah. Saya lelah lahir batin. Norak ya sobat ?
Bacaan-bacaan penggugah semangat juga tak mempan. Perjuangan tak kenal lelah dari Siti Khadijah dalam mendampingi Rasulullah, kesabaran Siti Hajar mencari mata air untuk puteranya ketika terdampar di Padang Pasir, ketegaran Al-Khansa mengantarkan puteranya syahid, kesetiaan para sahabat kepada Rasulullah lewat begitu saja, tak berbekas ! Nasehat demi nasehat dari orang terdekat hanya melintas di telinga untuk sekejap..
Hingga suatu hari, Allah mendatangkan seorang pemuda dari dunia penuh “kerlipan”, dunia selebritis dengan kekayaan yang bisa menggoda iman. Dia berada di puncak kejayaan. Usianya masih sangat muda. Grup band yang diusungnya menempati tiga besar di jajaran panggung hiburan Dengan tampilan bersahaja, ia datang untuk berdiskusi. … “Mba, jiwa saya gelisah, saya ragu apakah Allah ridha dengan apa yang saya perbuat saat ini ? Saya ingin mencintai-Nya seutuhnya. Tahukah mbak? tidak jarang ketika azan berkumandang, saya sedang sibuk berjingkrak-jingkrak dalam kalimat yang tak pantas. Jauh dalam hati saya menangis, ingin berontak…” Kalimat sederhana itu merobohkan semua tiang keangkuhan yang sedang meraja. Subhaanallaah…dia masih sempat ingat Allah dalam dunianya yang hingar-bingar, dia ingin disayang Allah… sementara saya menampik semua kasih sayang itu. Betapa tak bersyukurnya… Saya malu ya Allah.. benar-benar malu..
Dalam hati, saya teriak dan menangis.. hingga curhat-curhatnya yang lain tak sempat saya dengarkan dengan seksama. Saya rasakan “tamparan demi tamparan” Allah merasuk dalam hati, sejuk sekali.. Kasih sayang Allah serasa menjalar di setiap pembuluh darah.
Penyesalan selalu datang terlambat. Tiga bulan, cukup lama untuk sebuah kekecewaan dan kemalasan, cukup lama untuk tidak istiqomah dalam melaksanakan amalan sunnah, cukup lama untuk tidak khusyu shalat dan cukup lama untuk mengabaikan sesama. Tiba-tiba rasa takut menyelinap.. andaikan Allah memanggil dalam keadaan terburuk itu, sanggupkah saya menghadap-Nya ? Astaghfirullaah..
“Ya Rabb, jadikan penyesalan ku ini sebagai penyesalan terakhir. Beri aku kemampuan untuk mengerahkan semua instrument yang Kau anugerahkan sebagai kompas untuk penuntun langkah dalam setiap detak kehidupan, hingga tiada lagi penyesalan tak berguna. Ijinkan aku menitipkan cinta untuk semua makhluk yang telah Kau hadirkan tuk belajarku. Pandu aku untuk bisa selalu bermuhasabah. Ampuni aku ya Allah. Makasih telah ajari aku cintai-Mu lewat jalan yang Kau sukai”

Sabtu, 11 Oktober 2014

perbedaan ikhlas dan pamrih

~ PERBEDAAN ‘IKHLAS’ & ‘PAMRIH’ ~ oleh Agus suryadi



Salah satu akhlak tertinggi di dalam agama Islam adalah IKHLAS. Lawannya, PAMRIH. Kenapa Islam mengajarkan keikhlasan? Karena, Allah menghendaki umat Islam menjalani agamanya ‘tanpa pamrih’. Semua aktivitas hidupnya dilakukan lillahi ta’ala ~ ‘karena Allah semata’.

Bersyahadatnya, karena Allah. Shalatnya, karena Allah. Puasanya karena Allah. Zakatnya karena Allah. Dan hajinya pun karena Allah. Demikian pula ketika menolong orang, menuntut ilmu, bekerja, menjadi pejabat, menjadi ustadz dan ustadzah, menjadi hakim, jaksa, polisi, profesional, dan apa pun aktivitasnya, semua dijadikan sebagai proses belajar IKHLAS dalam mengagungkan Allah semata.

Lantas, bagaimanakah membedakan ibadah yang ikhlas dan ibadah yang penuh pamrih? Pada dasarnya: Orang yang ikhlas, menjalankan agama KARENA ALLAH semata. Sedangkan orang yang pamrih, melakukan ibadah karena ingin memperoleh sesuatu untuk keuntungan DIRINYA. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

  1. Orang yang ikhlas meniatkan shalatnya karena Allah semata, persis seperti doa iftitah yang dibacanya: ’’inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin ~ sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata.’’ Sedangkan orang yang pamrih, meniatkan shalatnya untuk mengejar pahala 1x, 27x, 1000x, dan 100.000x. Ada juga yang melakukan shalat Dhuha karena ingin memperbanyak rezeki. Atau shalat tahajud agar punya karomah. Dan lain sebagainya.
  2. Orang yang ikhlas, menjalankan puasanya karena taat kepada Allah semata. Karena dengan puasa itu ia akan menjadi jiwa yang lebih suci, sehingga lebih mudah mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan yang pamrih, melakukan puasa karena tujuan-tujuan yang selain mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, ada orang berpuasa agar lulus ujian, agar mendapat jodoh, agar langsing, agar sehat, agar sakti, dlsb. Padahal, semua itu hanya ’dampak’ saja dari ibadah puasa. Tidak usah dipikirkan dan apalagi dijadikan tujuan. Kalau puasanya ’karena Allah’ semata, PASTI semua dampak positip itu akan datang dengan sendirinya.
  3. Orang ikhlas menunaikan zakat dan shodaqohnya karena ingin menolong orang lain, meniru Sifat Allah yang Maha Pemurah. Tetapi, orang yang pamrih mengeluarkan zakat dan sedekah karena ingin dipuji orang, untuk memunculkan rasa bangga di dalam hatinya karena bisa menolong orang, atau yang lebih parah lagi adalah berharap balasan pahala sampai 700 kali dari nominal yang dikeluarkannya. Jadi, ketika dia mengeluarkan uang Rp 1 juta, yang ada di benaknya adalah berharap mendapat BALASAN Rp 700 juta. Berdagang dengan Allah..!
  4. Orang ikhlas menunaikan haji dan umrohnya, karena ingin memperoleh pelajaran berkorban, bersabar, keikhlasan, dan ketaatan, dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan yang pamrih, ingin sekedar BERDARMA WISATA, meskipun diembel-embeli dengan kata RUHANI. Bahkan saat haji banyak orang yang meniatkan hajinya sekedar pada titel HAJI, atau penampilan berkopiah haji, panggilan ’Wak Haji’, dan kemudian membeli sertifikat haji dengan mengubah namanya. Dia berhaji bukan karena Allah, tetapi karena segala macam tujuan selain Allah.
  5. Orang ikhlas mengorientasikan seluruh ibadahnya untuk MENCINTAI ALLAH, dan merendahkan ego serendah-rendahnya sebagai manifestasi syahadatnya: laa ilaaha illallah ~ tiada Tuhan selain Allah. Tetapi orang-orang yang pamrih mengorientasikan ibadahnya untuk mengejar SURGA, sehingga tanpa terasa ia meninggikan egonya, dan mengesampingkan Allah sebagai fokus ibadahnya. Allah bukan tujuan hidupnya. Tuhannya sebenarnya bukanlah Allah, melainkan Surga. Karena, ternyata, imajinasi kebahagiaanya bukan saat dekat dengan Allah, melainkan berada di dalam surga. Yang demikian ini, justru tidak akan mengantarkannya ke surga. Karena surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang mengarahkan seluruh kecintaannya hanya kepada Allah semata. Dan itu tecermin dalam doanya: Allahumma antasalam, waminka salam ... ~ Ya Allah, Engkaulah Kebahagiaan dan Kedamaian Sejati, dan dari-Mu-lah bersumber segala kabahagiaan ...

Maka, kawan-kawan, marilah kita belajar menjalani seluruh aktivitas kehidupan kita ini dengan IKHLAS. Bukan ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, atau terpaksa ikhlas, melainkan IKHLAS yang dilambari oleh KEPAHAMAN tentang substansi apa yang akan kita lakukan. Semakin paham Anda terhadap apa yang akan Anda lakukan, semakin ikhlas pula anda menjalaninya. Sebaliknya, semakin tidak paham, maka semakin tidak ikhlas pula hati Anda dalam menjalaninya. Terpaksa Ikhlas, karena takut masuk neraka dan tidak memperoleh surga...

Betapa sayangnya, di dunia merasa tersiksa karena TERPAKSA mengikhlaskan ibadahnya, sedangkan di akhirat juga tidak memperoleh buah perbuatannya, karena ia tidak mendasarkan ibadahnya lillahi ta’ala. Surga yang digambarkan sebagai taman-taman yang indah dengan mata air-mata air itu tidak memberikan dampak kenikmatan baginya, karena sesungguhnya keindahan itu dikarenakan KECINTAAN kepada Sang Maha Indah. Mirip dengan orang yang menginap di hotel bintang lima, tetapi hatinya tidak bisa menikmati dikarenakan ia datang kesana dengan TERPAKSA ...

QS. Yunus (10): 105
Dan HADAPKAN-lah wajahmu (orientasi hidupmu) kepada agama dengan TULUS dan IKHLAS dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik (menduakan Allah sebagai tujuan hidup).

QS. Al A’raaf (7): 29
... Dan LURUSKANLAH wajahmu di setiap shalat dan sembahlah ALLAH dengan MENGIKHLASKAN ketaatanmu kepada-Nya...

QS. An Nisaa’ (4): 125
Dan siapakah yang LEBIH BAIK agamanya daripada orang yang IKHLAS menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun MENGERJAKAN kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim (dan orang-orang yang mengikuti ajarannya) menjadi KESAYANGAN Allah.


Wallahu a’lam bishshawab

~ salam ~

Jumat, 26 September 2014

emosi brokk

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لا تغضب ولك الجنة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca ta’awudz:
أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengingatkan,
إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
القائم متهيئ للحركة والبطش، والقاعد دونه في هذا المعنى، والمضطجع ممنوع منهما، فيشبه أن يكون النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنما أمره بالقعود لئلا تبدر منه في حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بعدُ
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As-Sunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قادرٌ على أنْ يُنفذهُ دعاهُ اللَّهُ سبحانهُ وتعالى على رءوس الخَلائِقِ يَوْمَ القيامةِ حتَّى يُخيرهُ مِنَ الحورِ العين ما شاءَ
“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
وَهَذَا الثَّنَاءُ الْجَمِيلُ وَالْجَزَاءُ الْجَزِيلُ إِذَا تَرَتَّبَ عَلَى مُجَرَّدِ كَظْمِ الْغَيْظِ فَكَيْفَ إِذَا انْضَمَّ الْعَفْوُ إِلَيْهِ أَوْ زَادَ بِالْإِحْسَانِ عَلَيْهِ
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi. Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
من كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه يوم القيامة رضا
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”
Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nyashallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
وَقَالَ: له أحد الصحابة «تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ» فَقَالَ: أَتُرَى بِي بَأْسٌ، أَمَجْنُونٌ أَنَا، اذْهَب
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik ibumu.’
Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis,
الغضب من الشيطان ، والشيطان من النار ، والماء يطفئ النار ، فإذا غضب أحدكم فليغتسل
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan,
إن ثبت هذا الحديث فإنما الأمر به ندبا ليسكن الغضب ، ولا أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan,
يشير هذا الحديث إلى حقيقة طبية معروفة ، فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشئة عن الانفعال ، كما يساعد على تخفيف حالة التوتر العضلي والعصبي ، ولذلك كان الاستحمام يستخدم في الماضي في العلاج النفسي
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]

Search

Sample Text